Syaikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi : Cahaya Nusantara di Haramain | Toko Buku Pesantren Syaikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi : Cahaya Nusantara di Haramain - Toko Buku Pesantren

Toka Buku Islam, Kitab Kuning, Buku Pesantren, Kitab Makna Ala Pesantren



Tuesday, 22 August 2017

Syaikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi : Cahaya Nusantara di Haramain



Syaikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi : Cahaya Nusantara di Haramain
Judul : Syaikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi : Cahaya Nusantara di Haramain
Penulis : Amirul Ulum
Pengantar : Ahmad Ginanjar Sya'ban
Penerbit : CV. Global Press
Tebal : xvi + 176 Halaman
Cetakan I : Mei 2017
Cover : Soft Cover
ISBN : 978-602-61077-8-7
Jenis Kertas : HVS
Ukuran : 13,5×20,5
Harga : Rp. 60.000,-




SINOPSIS :
“Saya mendapatkan ijazah khusus sebuah zikir untuk mengamalkannya dari pamanku, Syaikh Mahmud ibn Udiq al-Fadani dari al-Allamah al-Bahru al-Syaikh Ahmad Khatib ibn Abdul Lathif al-Minangkabawi. Al-Minangkabawi mengatakan, “Saya menerima talqin zikir dari guruku, Sayyid Abu Bakar Syatha, ia meriwayatkan zikir tersebut dari Sayyid Ahmad ibn Zaini Dahlan, mufti Makkah al-Mukarramah. Sanad ini berhujung hingga sampai kepada Ali ibn Abi Thalib dari Nabi Muhammad SAW.”
(Syaikh Yasin ibn Isa al-Fadani : Musnid Dunya)


“Syaikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi merupakan sosok yang gagah perkasa, mukanya jernih, di keningnya terkesan bekas sujud, jenggotnya lancit, beliau didengki oleh ulama-ulama Arab karena lidahnya lebih fasih dan karangannya lebih balaghah dari karangan mereka. Beliau menantu orang kaya yang berkenalan (akrab) dengan syarief (penguasa Hijaz). Tetapi meskipun didengki, ia sangat disegani. Meskipun ia hidup dengan gaya bangsawan Arab, namun cintanya akan tanah Minangkabau tidak akan pernah putus. Tidak ada ulama Makkah yang sanggup menandingi beliau.”
(Syaikh Karim Amrullah : Tokoh Pembaharu Islam di Nusantara)


“Syaikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi adalah ulama yang berasal dari Minangkabau, yang oleh orang Jawa di Mekkah dianggap sebagai ulama yang paling berbakat dan berilmu di antara mereka. Semua orang di Indonesia yang naik haji, mengunjungi dia.”
(Snock Hurgronje : Mufti Hindia Belanda)


Syaikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi merupakan salah seorang ulama Nusantara yang menorehkan prestasi gemilang dalam kencah keilmuan di Haramain (Makkah dan Madinah). Atas prestasi yang dihasilkannya, ia diangkat untuk menjadi pengajar, imam, dan khatib di Masjidil Haram. Bahkan karena tertarik dengan kealimannya, al-Minangkabawi diangkat menjadi Mufti Syafi’iyyah di Hijaz. Sungguh sebuah prestasi yang membanggakan dan membawa nama harum bangsa Indonesia.
Ketika Syaikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi sudah berkiprah di Haramain, khususnya menjadi pengajar di Masjidil Haram, banyak thalabah dari penjuru dunia, terlebih Nusantara yang ikut beristifadah (belajar) mengitari majlis keilmuannya. Kebanyakan muridnya menjali tokoh yang berpengaruh dalam masalah keulamaan dan pergerakan dalam mengentaskan bangsa Indonesia dari belenggu penjajah. Di antara murid al-Minangkabawi adalah, Syaikh Abdul Hamid al-Minangkabawi (pengajar di Masjidil Haram), Syaikh Baqir al-Jukjawi (pengajar di Masjidil Haram), Kiai Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah), Kiai Hasyim Asy’ari (pendiri Nahdlatul Ulama), Haji Agus Salim (tokoh kemerdekaan), Syaikh Muhammad Isa al-Fadani (ayah Syaikh Yasin al-Fadani), Syaikh Mahmud al-Fadani (paman Syaikh Yasin al-Fadani), Syaikh Karim Amrullah (tokoh pembaharu Nusantara, ayah Buya Hamka), Syaikh Abdu Wasi’ al-Yamani (ulama dari Yaman), Syaikh Hasan Ma’shum (mufti Kerajaan Deli), Syaikh Muhammad Nur Ismail (qadhi Kerajaan Langkat), Syaikh Sulaiman Arrasuli (ulama Minangkabau), dan lain-lain.
Meskipun Syaikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi tidak bertempat tinggal di Nusantara_Minangkabau, namun kecintaannya kepada tanah airnya begitu kuat. Dengan senang hati, al-Minangkabawi membantu setiap thalabah Nusantara yang menjalani proses dirasah di Haramain. Bukan hanya sekedar menjadi pendidik, namun hartapun ia kucurkan kepada mereka yang kehabisan bekal dalam masalah ekonomi, sebab jauhnya jarak dengan kerabatnya.
Ketika umat Islam di Nusantara sedang dilanda sebuah masalah, terlebih masalah agama yang berkaiatan dengan akidah sebab digerus oleh kompeni melalui ulama gadungannya dan koleganya seperti Syaikh Abdul Ghaffar (Snock Hurgronje) dan Sayyid Ustman al-Batawi, maka tidak segan-segan Syaikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi akan mengeluarkan sikap keagamaannya dengan mengarang sebuah kitab yang akan menampik pendapat mereka.
Karena kealiman yang ditorehkan oleh Syaikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi, Mufti Hindia Belanda, yaitu Snock Hurgronje mengatakan, “Seorang yang berasal dari Minangkabau, yang oleh orang Jawa di Mekkah dianggap sebagai ulama yang paling berbakat dan berilmu di antara mereka. Semua orang di Indonesia yang naik haji,mengunjungi dia.”
Buku ini berusaha mengupas tentang sosok Syaikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi mulai dari sejarah leluhurnya, kiprahnya, dan prestasi yang ditorehkannya, termasuk juga sikapnya dalam menanggapi pergolakan di Nusantara, seperti lahirnya Sarekat Islam (SI) dan kemelut perbedaan pendapat antara Kaum Muda (Islam Modernis) dan Kaum Tua (Islam Tradisionalis).

No comments:

Post a Comment

Pecinta Buku Islam