Kartini Nyantri | Toko Buku Pesantren Kartini Nyantri - Toko Buku Pesantren

Toka Buku Islam, Kitab Kuning, Buku Pesantren, Kitab Makna Ala Pesantren



Thursday, 24 August 2017

Kartini Nyantri



Judul Buku : Kartini Nyantri (Edisi Best Seller)
Penulis : Amirul Ulum 
Penerbit : CV. Global Press 
Tebal : xii+ 266 Halaman 
Cetakan II : November 2016
Cover : Soft Cover 
Jenis Kertas : Book paper 
Ukuran : 13,5×20,5

Harga : Rp. 70.000,- 


“Siapa tahu apa yang sebenarnya baik akan menjadi sesuatu kejahatan apabila ditulis oleh pena yang tidak bijaksana, tidak berpengetahuan dan pemarah.”

(Raden Ajeng Kartini : 1901)

Gadis itu termenung dalam kesepian. Meratapi sebuah keniscayaan yang menimpa dirinya dan kaum perempuan Jawa. Mengapa seorang Hawa tidak diperkenankan untuk keluar rumah untuk meneruskan misi pendidikannya padahal kaum Adam diperbolehkan. Ia menganggap bahwa semuanya itu dlindungi oleh hukum Islam.
Gadis itu bernama Kartini, putri dari Adipati Jepara, Raden Mas Sosroningrat. Seandainya ia dapat berubah menjadi seorang lelaki, maka ia sangat berharap sedemikian untuk mengepakkan sayapnya supaya dapat bebas terbang untuk mencari sebuah pengetahuan. Semuanya ia lakukan demi mendapatkan sebuah pendidikan, sejuta ilmu yang akan digunakan untuk mengentaskan bangsanya dari kungkuman penjajahan yang sudah menjamur. Semuanya terjadi sebab kebodohan, yang selalu diharapkan untuk tetap menjamur, supaya kompeni dapat mengeruk harta kekayaan Nusantara, melanggengkan kekuasaannya, dan menyebarkan agama yang dianutnya, glod, glory, and gospel.

Saat masih kecil, sebelum usianya dipingit, Kartini pernah mengalami sebuah pengalaman pahit tentang al-Qur’an, kitab suci pegangan umat Islam, kitab sucinya yang dijadikan sebagai pedoman hidup untuk bekal keselamatan di dunia dan akhirat. Ia mengalami pengalaman pahit saat mengaji al-Qur’an kepada guru ngajinya. Sejatinya ia sangat tertarik dengan bacaan ayat-ayat suci al-Qur’an, kitab suci yang tidak akan pernah dapat ditandingi kehebatannya oleh semua mahkluk di alam semesta. Akan tetapi, karena keingintahuannya yang tinggi, dengan memberanikan diri, ia bertanya kepada guru ngajinya tentang makna yang terkandung. Guru ngajinya tidak bersedia menerjemahkan arti yang terkandung dalam kitab suci al-Qur’an. Kartini sangat kecewa. Ia menjadi malas mengaji. Iapun mencurhatnya kegelisahannya kepada sahabat penanya yang ada di Eropa, Stella namanya.
“Al-Qur’an terlalu suci untuk diterjemahkan, dalam bahasa apapun juga. Di sini orang juga tidak tahu bahasa Arab. Di sini orang diajari membaca al-Qur’an, tetapi tidak mengerti apa yang dibacanya. Saya menganggap hal itu pekerjaan gila; mengajari orang membaca tanpa mengajarkan makna yang dibacanya. Sama halnya seperti kamu mengajar saya membaca buku bahasa Inggris yang harus hafal seluruhnya, tanpa kamu terangkan kepada maknanya kepada saya. Kalau saya mau mengenal dan memahami agama saya maka saya harus pergi ke negeri Arab untuk mempelajari bahasanya di sana. Walaupun tidak saleh, kan boleh juga jadi orang baik hati. Bukankan demikian, Stella?”.
Ketidak bolehan menerjemahkan al-Qur’an ke dalam bahasa selain Arab tidak dapat dilepaskan dari peran Belanda yang berusaha menjauhkan umat Islam pribumi dari agamanya. Sebab jika al-Qur’an diketahui maknanya, maka hal tersebut dapat membahayakan bangsa penjajah, sebab di dalamnya terdapat ayat Allah yang isinya jika diketahui artinya, maka akan merugikan pihak Belanda seperti bahwa orang yang mati syahid dalam membela agama Allah dijanjikan dengan kenikmatan yang berlipat ganda, dan mereka sebenarnya tidaklah mati, akan tetapi masih hidup di sisi Tuhan-nya. Kompeni trauma dengan perlawan Muslim Aceh yang menggebu-gebu, begitu juga perlawan Pangeran Diponegoro, dan para kiai-santri di Cilegon pada 1888. Semua terjadi sebab spirit ulama yang mengadopsi janji dari al-Qur’an.
Melalui Snock Hurgronje, Pemerintah Hindia Belanda membuat kebijakan yang tidak menguntungkan bagi umat Islam. Salah satunya caranya didekatilah putra bangsawan yang kebanyakan berasal dari trah para kiai atau ulama supaya berkenan dididik dengan dengan pengajaran umum, memasuki sekolah sekolah yang didirikan oleh Belanda. Mereka lebih disibukkan dengan pengajaran umum dibanding dengan menyibukkan menghafalkan kalam ilahi serta nazam-nazam atau kitab yang dikarang oleh para ulama, sebagaimana tradisi pendahulunya.
Kartini meskipun masih ada hubungan kerabat dengan al-Habsi dan masih keturunan seorang ulama dari Mayong, Kiai Haji Madirono, jika dihadapkan dengan sesuatu yang berbau arab, ia tidak dapat membacanya, ia merasa sangat kesulitan. Hal ini semata-mata disebabkan lingkungannya, Kadipaten Jepara dipenuhi dengan kompeni, serta sejak kecil ia lebih akrab dengan pendidikan yang berasal dari Belanda dibandingkan dengan pengajaran Islam. Sehingga, karena kedekatannya dengan Belanda ini, maka tatkala ia mendapatkan sebuah kemusykilan masalah agama islam, tentang kapan seorang wanita dikatakan baligh, ia mengkonsultasikan kepada ulama yang dekat dengan Belanda.
“Satu lagi permintaan yang hendak saya ajukan kepadanya, Nyonya. Apabila nyonya bertemu dengan Dr. Snouch Hurgronje, sudikah nyonya bertanya kepada beliau tentang hal berikut: “Apakah dalam Islam juga ada hukum akil baligh seperti dalam undang-undang Barat?” Ataukah sebaiknya saya memberanikan diri langsung bertanya kepada beliau? Saya ingin sekali mengetahui sesuatu tentang hak dan kuwajiban perempuan serta perempuan Islam. Bagaimana undang-undang agama bagi mereka? Suatu hal yang bagus sekali. Saya malu bahwa kami sendiri tidak tahu tentang hal itu. Sangat menyedihkan, betapa terbatasnya pengetahuan kami mengenai hal tersebut”.
Snock dianggap Kartini sebagai seorang yang pengetahuannya tentang Islam mumpuni sebab ia merupakan seorang Mufti Hindia Belanda yang akrab dengan Abendanan yang menjadi Direktur Pengajaran Kementerian Pengajaran dan Kerajinan. Sang mufti alias Snock tidak memberikan jawaban yang mengenakkan bagi Kartini. Bahwa perempuan dikatakan baligh, jika ia sudah berkahwin. Kartini kurang puas dengan jawaban tersebut. Ia bertanya demikian sebab jika ia dianggap sudah baligh, maka ia akan diperbolehkan untuk keluar rumah, termasuk untuk mencari sejuta pengetahuan. Ia tidak dapat baligh sebelum menikah, padahal demi cita-citanya untuk mendapat pengajaran ia rela menunda pernikahannya. Semua itu ia lakukan demi bangsanya.
Kartini termenung. Ia hanya dapat mengadukan kegundahannya kepada Tuhan-nya dan curhatan melalui goresan penanya yang dikirimkan kepada sahabat penanya di Eropo. Ingin sekali ia menyelami ajaran Islam, sehingga dapat diketahui bahwa agama yang suci itu tidak pernah anti dengan pendidikan bagi wanita. Ia mengangkat harkat dan martabat kaum Hawa.
Karena terus berdoa, akhirnya Allah mengijabahi penyuwun (permintaan) hamba_Nya. Bertemulah ia dengan Kiai Sholeh Darat, yang sama-sama asli orang Jepara, namun bertempat tinggal di Semarang. Sang kiai ini sering diundang untuk mengisi acara keagamaan di beberapa kadipaten seperti Demak, Semarang, Kudus, Jepara, dan Surakarta.
Ketika mengisi acara di Kadipaten Jepara, Kartini mendengarkan bagaimana indahnya pemaparan kalam ilahi yang dari Kiai Shaleh Darat. Ada sesuatu yang membuatnya merasa berbeda dengan al-Qur’an yang selama ini ia kaji, yang mana ia tidak mengerti maksud dan artinya. Merasa penasaran dengan apa yang disampaikan oleh Kiai Sholeh Darat, tatkala ayahnya mengajaknya untuk menghadiri pengajian yang sama di pendopo Kadipaten Demak, yang berada di bawa pemerintahan Adipati Ario Hadiningrat, paman Kartini, maka ia dengan senang hati mengikuti ajakan ayahnya tersebut. Di Kadipaten Demak ini, Kiai Sholeh Darat memaparkan makna yang terkandung dalam surat al-Fatihah yang setiap hari dibacanya ketika mengerjakan salat. Ia merasa tertegun dengan keindahan makna tersebut. Merasa masih penasaran dengan apa yang terkandung dalam al-Qur’an, akhirnya ia meminta sang paman agar diperkenankan untuk bertemu dengan sang kiai.
Ketika terjadi dialog antara Kartini dengan Kiai Sholeh Darat tentang hasrat Kartini yang menginginkan agar ia berkenan menerjemahkan kalam ilahi tersebut ke dalam bahasa selain Arab, yang dimengertinya. Merasa tidak mampu, Kiai Sholeh Darat mengatakan tidak sanggup. Kartini terus mengiba dan mengemis agar ia berkenan menerjemahkan al-Qur’an supaya dimengerti maksudnya. Melihat kondisi yang sedemikian ini, akhirnya Kiai Sholeh Darat tidak kuasa kecuali memenui permintaan Kartini.
Merasa sudah lama tidak bertemu dengan Kiai Sholeh Darat, akhirnya ia sowan kepadanya. Ditanyailah ihwal masalah terjemahan tafsir al-Qur’an yang dipesannya. Sang kiai menjawab belum selesai. Baru mendapatkan sebagian dari surat al-Qur’an. Kartini sudah meluap-luap atas kerinduannya terhadap al-Qur’an. Ia memohon meskipun belum sempurna, agar Kiai Sholeh Darat berkenan mempublikasikan terjemahan tersebut meskipun hanya sesurat. Ia terdiam tidak dapat menjawab keinginan Kartini. Hal ini disebabkan ketakutannya jika amalan tersebut, yakni mempublikasikan kitab yang belum paripurna, termasuk bagian amalan setan sebab adanya ketergesa-gesaan. Setelah melakukan amalan salat Istiharah, akhirnya ia mendapatkan sebuah petunjuk untuk mempublikasikan karya tersebut. Ia mengatakan, “Tergesa-gesa itu tidak haram atau makruh, khilafu al-ula (bersebrangan dengan yang lebih utama), bahkan dapat menjadi bagus dan agung memilihnya sebab adanya faidah yang berupa menjadi wasilah (perantara) atas perkara yang lebih agung (dari pada tidak disegerakan), yang berupa tersebarnya ilmu, hikmah, dan asrar (rahasia) yang akan diketahui orang banyak.”
Tafsir request Kartini kepada Kiai Sholeh Darat diberi nama Faidhu al-Rahmãn fi Tarjamati Tafsîri Kalam Maliki al-Dayyãn yang diserahkan kepada Kartini pada 17 Agustus 1902. Ia mendapat oase di tengah padang pasir. Ia mengatakan :
“Karena merasa senangnya, seorang tua telah menyerahkan kepada kami naskah-naskah lama Jawa yang kebanyakan menggunakan huruf Arab. Karena itu kini kami ingin belajar lagi membaca dan menulis huruf Arab. Sampai saat ini buku-buku Jawa itu semakin sulit sekali diperoleh lantaran ditulis dengan tangan. Hanya beberapa buah saja yang dicetak. Kami sekarang sedang membaca puisi bagus, pelajaran yang arif dalam bahasa yang bagus. Saya ingin sekali kamu mengerti bahasa kami.
Aduhai, ingin benar saya membawa kamu untuk menikmati semua keindahan itu dalam bahasa aslinya. Maukah kamu belajar bahasa Jawa? Sulit, itu sudah tentu, tetapi bagusnya bukan main! Bahasa Jawa itu bahasa perasaan, penuh puisi dan kecerdikan. Kami sendiri sebagai anak negeri kerapkali tercengang tentang ketajaman bangsa kami.
Alangkah bahagianya Kartini mendapatkan terjemahan kalam ilahi yang selama ini dianggapnya hampa ternyata mengandung segudang hikmah. Hatinya merasa mendapatkan sebuah cahaya ketika mempelajari makna yang terkandung dalam tafsir Faidhu al-Rahmãn fi Tarjamati Tafsîri Kalam Maliki al-Dayyãn.
“Sekarang tidak gelap lagi hati sanubari kami, perasaan damai yang hening dan tenang telah turun ke dalamnya. Dalam gelap dan kabut itu terlihatlah suatu bayang-bayang yang bersinar-sinar dengan indahnya dan melambai-lambai dengan ramahnya. Itulah cita-cita kami!”
Dan dengan sangat sungguh-sungguh terdengarlah suaranya mengatakan; “Berpuasalah satu hari satu malam dan janganlah tidur selama itu, juga harus mengasingkan diri di tempat yang sepi.”
“Habis malam datanglah cahaya,
Habis topan datanglah reda
Habis juang datanglah mulia
Habis duka datanglah suka.”
Berdesau-desaulah dalam telinga saya sebagai rekuiem.
Itulah maksud dan buah pikiran yang yang terdapat dalam kata-kata berikut; “Dengan berkekurangan, menderita dan tafakur akan diperoleh nur cahaya!” Tidak ada cahaya, yang tidak didahului oleh gelap. Bagus bukan! Menahan nafsu adalah kemenangan rohani atas jasmani. Dalam menyepi orang dapat belajar berpikir.”
Merasa kelebihan yang dimiliki oleh Kiai Sholeh Darat diketahui orang lain, entah karomah atau kelebihan dalam menuangkan sebuah ide, terutama dalam kitab Faidhu al-Rahmãn fi Tarjamati Tafsîri Kalam Maliki al-Dayyãn, ia merasa bahwa ajalnya sudah semakin dekat. Rasa itu ia gubah dalam kitab tersebut. Ia mengatakan, “Meskipun tafsir ini belum selesai ditulis (semua), sebab kalau diselesaikan semua kayaknya masih lama. insyaAllah akan disambung di kesempatan berikutnya. Jika saya meninggal terlebih dahulu (sementara tafsir tersebut belum tuntas ditulis), maka saya berharap kelak akan dilanjutkan oleh anak cucu.”
Perasaan Kiai Sholeh Darat menjadi sebuah kenyataan. Belum sampai merampungkan tafsirnya, allah Telah memanggilnya terlebih dahulu. Ia kembali ke Rahmatullah pada 28 Ramadhan 1321 H/ 18 Desember 1903 M. Surat yang dirampungkannya hanya al-Fatihah hingga al-Nisa, yang terdiri dari dua jilid. Tidak lama dari kemangkatan sang kiai, Kartini menyusul gurunya, ia sudah mengetahui bahwa ajalnya sudah dekat. Ia sudah merasakan bahwa umurnya tidak akan lebih dari 25 tahun. Itupun menjadi sebuah kenyataan. Ia kembali ke Rahmatullah pada 17 September 1904/ 7 Rajab 1322 H.
Kiai Sholeh Darat dikenal sebagai salah satu ulama nusantara yang produktif dalam menghasilkan karya. Mayoritas tulisannya menggunakan bahasa Arab Pegon, sebab bertujuan untuk memudahkan kaum awam yang tidak mengerti bahasa Arab. Karya selain tafsir Faidhu al-Rahmãn fi Tarjamati Tafsîri Kalam Maliki al-Dayyãn adalah Kitab Majmû'ah asy-Syâri'ah al-Kâfiyah li al-'Awam (menerangkan ilmu-ilmu syariat untuk orang awam), Kitab Munjiyat (berisi tentang tasawuf, merupakan petikan perkara-perkara yang penting dari kitab Ihyâ' `Ulum ad-Din karangan Imam al-Ghazali), Kitab al-Hikam (tentang tasawuf, merupakan petikan perkara-perkara yang penting daripada Kitab Hikam karangan Syaikh Ibnu `Athaillah al-Askandari), Tarjamah Sabil al-`Abid `alâ Jauharah at-Tauhîd (isinya tetang tauhid), Mursyid al-Wajiz (isinya tentang tasawuf atau akhlak), Minhaj al-Atqiya' (tentang tasawuf), Faidh al-Rahman fi Tarjamah Tafsir Kalam Malik ad-Dayyan (kitab tafsir), dan Syarh Maulid al-Burdah (berisi tentang syair-syair puistis tentang pujian terhadap Rasulullah SAW dan cara mengendalikan hawa nafsu).
Buku Kartini Nyantri berusaha menyikap tabir yang selama ini disembunyikan oleh orang barat atas diri Kartini. Mereka menganggap bahwa Kartini adalah hasil didikan utuh mereka, padahal sebenarnya tidaklah demikian. Selamat membaca!




No comments:

Post a Comment

Pecinta Buku Islam